Economy

Ahli Ungkap Cara Kerja Pembuat Hoaks, Untung Ratusan Juta


Pengamat media sosial menyebut pembuat hoaks punya viewer (penonton) sangat tinggi, sehingga bisa meraup keuntungan hingga ratusan juta.

Hal ini diungkap Analis media sosial sekaligus pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi. Menurutnya, cara kerja para pembuat hoaks ini ialah dengan menyediakan platform seperti website atau YouTube.

Kedua platform ini diisi dengan konten palsu dan disebarkan ke media sosial. Konten tersebut akan menimbulkan keriuhan sehingga banyak warganet mengakses.

Sehingga, para pembuat hoaks bisa meraup keuntungan dari iklan yang dipasang di situs (AdSense) dan kanal Youtube mereka. Selain itu, mereka juga bisa mendapat keuntungan dari penjualan produk dan pesanan politik.

"Kanal-kanal YouTube berisi fitnah dan hoaks ini viewernya tinggi. Ini baru 3 jam sudah 19 ribu views. [Sementara hoaks] yang ditanyakan Bapak saya karena viral di WAG [grup Whatsapp], baru 3 hari sudah 750an ribu views. Keuntungan ekonomi dari hoaks ini nyata. Berhati-hati-lah," tulisnya lewat akun resmi @ismailfahmi, Rabu, (18/8).

Dalam utas cuitan itu, Ismail juga menyisipkan sebuah video yang berisi pengakuan dari seorang pembuat hoaks yang diwawancara pada 2017 lalu.

"Kalau mereka yang baru memulai-mulai, itu rata-rata ya, kisaran penghasilan mereka yang kotornya itu bisa sampai 20 sampai 30 [juta]an saja. Bersih-bersih mungkin mencapai 10 sampai 15 jutaan," kata si pembuat hoaks yang disamarkan nama dan wajahnya dalam video wawancara di salah satu tv swasta tersebut.

Selain itu, dalam slide yang disematkan, sang pembuat hoaks mengaku murid pembuat hoaks bisa mendapat setidaknya Rp15 juta, sementara sang guru bisa memperoleh lebih dari Rp100 juta. Konten politik diaku menjadi sumber pendapatan paling besar.

Ismail lantas berkomentar bahwa penghasilan sebesar itu didapat pada 2017 ketika mereka hanya mengandalkan pendapatan dari iklan di situs. Namun, kini dengan makin ramainya iklan di Youtube, maka tak heran jika hoaks ini pun menjamur di platform video besutan Google itu.

Kasus menyebarkan hoaks untuk mencari keuntungan bukan hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat, dalam 10 tahun terakhir Dr. Mercola dilaporkan menyebarkan hoaks anti vaksin dan mendapat keuntugan dari penjualan pengobatan alternatif, termasuk menyebarkan hoaks terkait anti vaksin Covid-19.

Cap ini diberikan oleh peneliti yang sudah meneliti jejaring dokter ini. Namun, Mercola sendiri menolak tuduhan itu, seperti dilaporkan New York Times.

Sementara di dalam negeri, Peneliti MAFINDO, Puradian Wiryadigda per 14 Agustus 2021 mencatat jumlah hoaks pada semester I 2021. Data tersebut menyebut total hoaks general mencapai 1210, 262 hoaks terkait Covid-19, dan 105 hoaks terkait vaksin.

Hoaks terkait Covid-19 paling banyak dikaitkan dengan bencana kesehtan, nutrisi, dan dikaitkan dengan politik. Sebaran hoaks paling tinggi pada Januari dan jenis hoaks yang paling banyak disebarkan adalah konten menyesatkan.

Sementara alat penyebaran hoaks paling banyak menggunakan teks dan media campuran dengan unsur teks, foto, dan video.

Lebih lanjut, Ismail menjelaskan di Indonesia penyebar hoaks menjadikan berita TV menjadi bahan pembuat hoaks yang nantinya diunggah di YouTube yang merupakan ladang subur bisnis mereka.

Isu yang sensitif dan kontroversial menjadi menu favorit para pembuat hoaks karena isu tersebut banyak manarik minat warganet.

"Kanal-kanal seperti itu memfitnah siapa saja. Yang penting bisa viral. Dan memanfaatkan narasi dari siapa saja. Yang penting bisa viral," tulis Ismail.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1





Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel