Bikin Laptop Merah Putih, Benarkah Asli Indonesia?


Pemerintah diketahui memiliki proyek untuk mengembangkan laptop Merah Putih. Yakni untuk riset dalam negeri dan juga peningkatan Tingkatan Kandungan Dalam Negeri (TKDN) pada produk Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Ini dilakukan dengan menggandeng sejumlah perguruan tinggi dalam desain dan prototipe perangkat TIK untuk pendidikan. Ada empat perguruan tinggi yang ikut dalam konsorsium yaitu ITB, UGM, ITS, dan UI.

"Sejak tahun lalu teman-teman dari perguruan tinggi mengembangkan design dan prototipe perangkat TIK untuk pendidikan. Ini terus kita lakukan dan perkuat untuk meningkatkan TKDN produk alat-alat pembelajaran berbasis teknologi (termasuk laptop Merah Putih)," Dirjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdkbudristek), Nizam kepada CNBC Indonesia, Kamis (5/8/2021).

Dia menjelaskan program ini memiliki target untuk meningkatkan TKDN setiap tahunnya. Selain soal TKDN, juga berfokus pada penguasaan TIK.

Sementara itu dengan perkembangan teknologi yang terus terjadi, khususnya teknologi informasi menurutnya memang sulit menerapkan target tertentu.

"Karena teknologi terus berkembang, terlebih teknologi informasi, maka sulit untuk menetapkan target tertentu, yang penting setiap tahun ada peningkatan TKDN dan penguasaan teknologi informasi dan telekomunikasi," kata Nizam.

Soal upaya peningkatan TKDN juga pernah disampaikan oleh Menteri Koordinator Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan. Dia mengatakan telah tersedia laptop buatan dalam negeri hasil kerja sama dengan kampus ternama.

Luhut menyebutkan konsorsium yang dibuat akan membuat produk tablet dan laptop merah putih dengan merek Dikti Edu.

"Kalau kita lihat ada yang diproduksi dalam negeri, yang dibuat ITB, ITS, dan UGM, bekerja sama dengan industri TIK dalam negeri untuk membentuk konsorsium, membuat produk tablet dan laptop merah putih dengan merek Dikti Edu," jelasnya beberapa waktu lalu.

Dia menuturkan dengan jumlah pembelian yang disediakan selama beberapa tahun ke depan bisa dibangun industri sendiri. "Di zamannya pak Menteri Nadiem, kalau ini sudah bisa diluncurkan karena dengan jumlah pembelian mencapai Rp 17 triliun selama beberapa tahun saya kira sudah dibangun industri sendiri," ungkap Luhut.

Artikel ini telah tayang di : CNBCIndonesia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel