Economy

Gurih Bisnis Laptop Didongkrak Pandemi


Pasar penjualan laptop belakangan bertabur wajah baru, yakni produsen yang semula berkecimpung di jajaran ponsel pintar (smartphone).

Infinix dan realme, kedua vendor yang juga produsen ponsel pintar, belakangan merilis laptop yang dijual dengan kisaran Rp6 juta hingga Rp11 juta.

Terus, keberanian vendor teknologi yang identik menjual ponsel itu kini menjadi tanda tanya. Potensi apa yang akhirnya membuat mereka merambah ke dunia laptop.

Account Manager GFK, Lutfi Husein menilai penjualan perangkat laptop membesar dengan adanya bekerja dari rumah (WFH) dan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Ia mengatakan dahulu penggunaan laptop itu biasanya berawal dari anak SMA. Sejak pandemi Covid-19, pasar itu merambah ke anak SD bahkan pelajar TK.

"Dulu kita menggunakan laptop itu biasanya start dari anak SMA, terakhir sebelum pandemi. Selama pandemi mulai dari anak SD mungkin TK sudah menggunakan laptop untuk melakukan belajar," ujar Lutfi kepada CNNIndonesia.com lewat sambungan telepon.

Dia mengatakan dengan banyaknya kebutuhan dari siswa TK hingga SMA menjadi salah satu faktor peningkatan bisnis laptop di masa pandemi.

Jika dihitung, murid SD pada 2019-2020 sekitar 25 juta anak. Lutfi mengatakan celah itu sebagai kesempatan pasar yang sangat besar di Indonesia.

Lutfi blak-blakan mengenai data yang dihimpun oleh GFK. Dia mengatakan dari sisi consumer untuk notebook sekitar 2,5 juta unit setahun. Angka itu disebutnya belum mencukupi kebutuhan perangkat IT untuk menunjang dunia pendidikan.

Dia menilai, pada pelajar dengan adanya Pandemi Covid-19 mulanya menggunakan ponsel untuk PJJ. Kendati demikian, PJJ terus berlangsung hingga hampir dua tahun, dan kebutuhan dengan layar besar pun akhirnya meningkat salah satunya laptop.

Dengan begitu, Lutfi menilai pada vendor adanya potensi meroketnya permintaan pasar. Apabila para vendor ponsel itu masuk ke penjualan laptop pun, Lutfi mengatakan tidak akan memakan pasar vendor laptop lain yang sudah muncul duluan.

Saat disinggung apakah langkah penjualan laptop oleh vendor identik ponsel itu sebagai bentuk kejenuhan pasar smartphone, justru Lutfi tidak sepakat. Dia melihat hal ini merupakan dampak dari permintaan yang sangat tinggi.

Selain itu, kedua vendor seperti Infinix dan realme mampu memproduksi banyak perangkat lantaran pusat produksinya ada di China.

Meski begitu Lutfi menilai adanya fenomena kelangkaan chip untuk barang elektronik tidak terlalu berpengaruh dalam produksi laptop. Hanya saja nanti akan berdampak pada keterbatasan vendor dalam menjual produk ke Indonesia.

"Potensi dia (vendor) mungkin bisa membuat 1 juta atau 1000 unit dalam satu bulan, mungkin mereka hanya bisa memproduksi cuman 50 atau 100 unit," ujar Lutfi.

Lutfi mengatakan rata-rata harga penjualan laptop di Indonesia mulai naik semenjak pandemi.

Menurutnya berdasarkan data yang dihimpun GFK, sebelum pandemi Covid-19 penjualan laptop di angka Rp5,5 juta menguasai pasar sekitar 40 sampai 50 persen. Namun anehnya, semenjak pandemi Covid-19 penjualan laptop dengan harga Rp5 juta itu turun hanya 20 persen saja.

"Surprisingly untuk notebook saat ini ya berdasarkan data GFK memang dulu sebelum pandemi kita angka penjualan notebook di angka 5,5 juta itu di sekitar menguasai sekitar 40-50 persen penjualan notebook di konsumen, tapi semenjak pandemi itu ada perubahan. Justru notebook di bawah 5 juta ke bawah itu kontribusi hanya 20 persen," ujarnya.

Dia mengatakan saat ini kontribusi penjualan terbesar di angka Rp5 sampai Rp10 juta meningkat. Dengan begitu para vendor mengawali harga penjualan Rp6 jutaan menjadi titik awalan harga, lantaran menjual perangkat laptop dengan harga segitu dinilai mudah.

"Ya mungkin sekarang bujet untuk liburannya enggak ada, lalu dipindahkan. Dahulu liburan hampir tiap minggu kan. Itu salah satu alasanya bisa," tuturnya.

Sejalan dengan Lutfi, Senior Market Analyst IDC Indonesia, Stallone Hangewa, mengatakan permintaan akan laptop meningkat pesat setahun terakhir. Hal ini dikarenakan kebutuhan untuk bekerja dan belajar dari rumah akibat pandemi.

Stallone mengatakan fenomena itu tak hanya terjadi di Indonesia, melainkan di seluruh dunia.

"Demand akan laptop diseluruh dunia meningkat pesat setahun terakhir ini dikarenakan kebutuhan untuk bekerja dan belajar dari rumah akibat dari pandemi Covid-19," ujar Stallone kepada CNNIndonesia.com lewat pesan elektronik.

Dihubungi terpisah, pengamat smartphone, Lucky Sebastian, memandang fenomena ekspansi produk pada vendor ponsel ke penjualan laptop, sebagai kompetisi untuk menciptakan ekosistem kebersinambungan agar menunjang internet of things (IOT).

Saat ini para produsen teknologi berlomba untuk membuat seluruh perangkat yang dapat saling terhubung. Kini, beberapa produsen sudah membuat ponsel, laptop, tablet hingga earphone terhubung dalam satu ekosistem.

"Sekarang ini engga bisa HP doang karena bisa ketinggalan. Mereka ini akan berlomba bikin IOT seperti jam kemudian earphone, kemudian yang perlu untuk kerja lagi adalah laptop ya," ujar Lucky kepada CNNIndonesia.com lewat sambungan telepon.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa nantinya laptop juga bisa terhubung dengan perangkat Android, yakni dengan link to windows. Hal itu disebut Lucky akan memudahkan pengguna untuk berpindah-pindah perangkat, namun data yang dibutuhkan tetap terhubung.

Meskipun Luck menilai pasar ponsel pintar masih tumbuh pesat, para vendor harus mencari cara untuk menarik perhatian pengguna, salah satunya dengan perbanyak varian IOT.

Di samping itu Lucky menilai, dengan adanya kelangkaan chipset untuk perangkat elektronik, memproduksi laptop disebutnya menjadi siasat para vendor untuk menutupi kurangnya produksi ponsel. Hal itu disebutnya untuk tetap mendapatkan revenue yang terus berkembang.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1





Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel