Pakar Siber Nilai Aplikasi Satria BSSN Jauh dari Profesional


Pakar Keamanan Siber sekaligus CEO Digital Forensic Indonesia, Ruby Alamsyah kritik aplikasi kelola password besutan Badan Siber Sandi Negara (BSSN), Satria.

Ruby menilai aplikasi Satria jauh dari kelas profesional, bahkan bisa dikategorikan aplikasi yang dibuat oleh mahasiswa.

"(Satria) jauh dari profesional, baik itu individu atau sebuah perusahaan terkesan tidak biasa membuat aplikasi yang berkelas," kepada CNNIndonesia.com lewat sambungan telepon, Kamis (4/11) sore.

"Ini mah level anak kuliah ke bawah banyak yang buat," ujar Ruby.

Bahkan, Ruby menilai para developer usia 20 tahun saja bisa membuat aplikasi yang lebih bagus dari Satria.

Kritik pedas tersebut disampaikan Ruby saat selesai menjajal aplikasi Satria lewat gawai Android miliknya. Ia kecewa, lantaran logika pengembang dalam mendesain pendaftaran akun dinilai salah.

Tanpa Verifikasi Email


Aplikasi Satria tak memiliki verifikasi akun lewat email, sehingga pengguna bisa menyatut email asal-asalan untuk membuat akun di aplikasi tersebut.

"Misalnya saya login bikin email pakai kepalabssn.co.id itu bisa. Nah itu bisa karena setelah buat akun pakai email ngaco engga ada verifikasi," pungkasnya.

Ia mengatakan biasanya hampir semua metode pendaftaran akun di banyak aplikasi menggunakan email, yang nantinya aplikasi mengirimkan verifikasi ke email pengguna.

"Berarti orang bisa bikin email ngaco. Akhirnya orang kalo salah tulis email orang ga bisa pakai aplikasi itu. Begitu dimasukkin login salah, udah itu orang ga bisa login lagi," tuturnya.

Lebih lanjut, ia menilai amat disayangkan lembaga sebesar BSSN hanya membuat aplikasi yang sangat sederhana. Ruby mengatakan aplikasi untuk mengelola password sejenis itu sudah lebih dahulu dibentuk.

"Kenapa lembaga sebesar BSSN yang digadang-gadang namanya juga besar membuat aplikasi hanya sesederhana ini," ungkap Ruby.

Sebelumnya Kepala BSSN, Hinsa Siburian mengatakan aplikasi Satria dihadirkan sebagai bentuk keamanan siber bagi seluruh masyarakat, khususnya Aparatur Sipil Negara (ASN).

"Aplikasi SATRIA dihadirkan sebagai bentuk literasi digital karya mandiri BSSN untuk menunjukkan bahwa negara hadir dalam hal keamanan siber bagi seluruh masyarakat dan khususnya ASN se- Indonesia" ujar Hinsa lewat keterangan tertulis, Selasa (2/11).

Merespons hal itu, Ruby mengatakan aplikasi Satria salah jika digunakan oleh publik. Hal itu lantaran Satria sangat sederhana, hasilnya, masyarakat banyak mengritik aplikasi besutan BSSN itu.

Namun, Ruby menjelaskan jika sebatas digunakan di lingkup ASN saja, maka Satria bisa dianggap menjadi platform yang cukup baik.

"Mungkin di level ASN ini dianggap sesuatu yang cukup baik. Tapi kalo di level publik baik anak kecil sekalipun aja pakai aplikasinya yang memang sudah bagus dan berkelas," tuturnya.
Lebih baru Lebih lama